Reblogged from Agoes Santosa's Tumblr

Dude, I'm a future psychologist, not a Fortune teller or mind reader!

  • Scene 1 (on the train station):
  • Stranger: Hi. You're a college student?
  • Me: Oh, yes I am.
  • Stranger: What School?
  • Me: Adamson University.
  • Stranger: Oh, nice.
  • Me: Hehe. yeah thanks.
  • Stranger: What year?
  • Me: First.
  • Stranger: Oh. What is your course?
  • Me: Psychology.
  • Stranger: (stunned) Will you please read my mind?
  • -
  • Scene 2 (neighborhood):
  • Neighbor: What year are you?
  • Me: First year college.
  • Neighbor: What course?
  • Me: Psychology.
  • Neighbor: Cool! Go on, tell me what's on my mind.
  • -
  • Scene 3 (Relatives)
  • relative: What course are you taking up?
  • Me: Psychology
  • Relative: So you'll be handling crazy people in the mental hospital.
  • Dudes, we psychology students are future psychologists, not fortune tellers, mind readers, or psychiatrists, we are focusing more on the human behavior. So please, don't you ever ask any psychology student to read your mind, because I'm telling you, they'll give you a big no.

“Puisi untuk Azalea”

Azalea, jika aku datang padamu hanya sebagai bait-bait kata dalam surat yang gelisah dan membosankan, yang membuatmu terpaksa harus mengenang lagi masa lalu cinta kita yang indah, dan kepergianku yang menyisakan lubang nyeri di hatimu, maafkan aku- sebab sejauh itulah keberanianku.
Tak perlu kau mengubah apapun lagi tentang perasaanmu. Biarlah semuanya berjalan, tanpa rekayasa. Di depan, kita akan dialirkan oleh serangkaian peristiwa kebetulan.
Maafkan aku yang telah menyalakan kembali cahaya lampau, hingga laron-laron menyebalkan datang mengusik ketenanganmu. Aku hanya ingin bercerita, Azalea, seperti biasa. Melunasi hutangku pada waktu, mengubah senja menjadi lebih lapang.
Azalea, jika aku datang padamu sebagai angin, menceritakan perjalanan panjang mengarungi musim, aku hanyalah angin yang datang dan akan kembali pergi. Seperti gerimis yang sebentar, menyapamu dari jendela kaca, bercerita tentang labirin kenangan, lalu aku akan kembali menghapus jejak pulang, menyamarkan alamat-alamat dalam surat.
Azalea, jika suatu saat aku datang lagi, aku berjanji akan menjadi orang lain yang bersembunyi mengakrabi alis matamu, dari jauh menikmati sepasang matamu menjelma dua hulu sungai di hatiku.
Azalea, aku masih mengenang senyummu melalui gambar gadis manis yang tersenyum, dalam kalender di kamar tidurku, itu cukup. Sebab sebatas itulah keberanianku.
Azalea, aku menyesal dan minta maaf. Sebab kepergian, lambaian tangan atau salam perpisahan memang selalu seperti tak punya perasaan. Apalagi bagiku, yang melakukannya tanpa pesan.
Lalu waktu, semua akan berlalu. Yang tersisa tinggal kenangan.
Setidaknya, aku masih memiliki dua hal: perjalanan dan kenangan. Itu cukup, Azalea, melebihi apapun.
— ah, Azalea.. :’( 

#random

i’m deleting the messages. and soon, the memories. sorry.

poetries. emails. books. songs. words. dreams. encouragements. prayers. years.
argh! too much. clinging to the memories of the past is hurt. truly.
— me.
nuywulandari:

yes, don’t judge anyone !

nuywulandari:

yes, don’t judge anyone !

sufee:

The Wise Ruler.

sufee:

The Wise Ruler.

Biasakan :)

nuradicty:

ya ampun = Masyallah

Sialan = Astaghfirullah

Busyet = Subhanallah

Oke = Insyallah

Halo = Assalamualaikum

Thanks = Jazakumullah

Ganti terkejutmu = innalillahi

Ganti kecewamu = innama’al ushri yusraa

Ibadah paling mudah = tersenyum :)

Ganti pujian terhadapmu sebagai do’a = ucapkan ‘Amiin’

by : Hijabku (Hanakochan) :p

keisara:

maunkx:

Mana Mungkin Aku Setia… (B.J. Habibie for Ainun Habibie)
 
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan
bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.
“Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.” 
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta,
sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

:’(

keisara:

maunkx:

Mana Mungkin Aku Setia… (B.J. Habibie for Ainun Habibie)

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan

bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,

sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,

hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.

“Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.”

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,

tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta,

sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

:’(